Need an account?

Forgot password?
Cara Mensucikan Najis Yang Haqiqi Dengan Air ( Bag 7 )
Bersuci dengan Air yang Mengalir

Ulama madzhab Hanafi mengatakan bahwa hukum air yang mengalir berlainan dengan hukum air yang tidak mengalir. Yang dimaksud dengan air yang mengalir ialah air yang biasanya dianggap mengalir oleh banyak orang. Ulama madzhab Syafi’i menganggap air kolam mandi dan air kolam biasa sama seperti hukum air yang mengalir, jika airnya mengalir turun dari bagian atas dan banyak orang yang mengambil air dengan tangan mereka. Oleh sebab itu, jika nampan atau tangan yang terkena najis dimasukkan ke dalam air tersebut, maka air itu tidak akan menjadi mutanajjis.

Jika ada najis yang tidak dapat dilihat bekasnya baik rasa, warna, atau baunya terjatuh ke dalam air itu, maka air itu dihukumi suci lagi menyucikan, boleh digunakan untuk ber- wudhu dan untuk menghilangkan najis. Karena, najis jika berada dalam keadaan cair tidak akan meresap bersama-sama aliran air.

Jika najis itu berupa seekor binatang yang telah mati, maka jika air itu mengalir ke arah binatang itu, ataupun ke arah sebagian besar badannya, ataupun ke arah separuh badannya, maka air itu tidak boleh digunakan Dan jika ia mengalir ke bagian yang paling kecil dari anggota binatang itu, sedangkan kadar air yang banyak mengalir pada tempa: yang bersih, dan air itu masih mempunya: kekuatannya, maka ia boleh digunakan apabila ia memang tidak ada najisnya.

Ulama Iraq menetapkan hukum khusus berkenanaan dengan al-ghadiir dan kolam besar yang airnya tidak mengalir, yaitu terdapat yang airnya tidak bergerak pada saia- satu sisinya ketika ia dikocak pada satu sisi yang lain. Yaitu apabila ada najis jatuh di saa’ satu sisinya menurut zhahir ar-riwayat dan ini merupakan pendapat yang ashah maka jika seseorang mendasarkan keputusanya berdasarkan kepada dugaan dan juga ijtihadnya bahwa najis itu tidak akan sampai ke sisi yang satunya lagi, maka air yang terdapat di sisi yang lain yang tidak terkena najis aapat digunakan untuk berwudhu dan untuk menghilangkan najis. Karena, pada lahirnya r.ajis itu tidak sampai ke penjuru yang satu lagi. Adapun hukum yang difatwakan adalah boleh bersuci dengan air yang terdapat di semua penjuru kolam itu.

Ulama selain madzhab Hanafi mengatakan bahwa air yang mengalir sama hukum-nya dengan air yang tidak mengalir. Jika kadar air itu banyak dan tidak kemasukan oleh najis, yaitu tidak berubah salah satu sifatnya baik rasa, warna dan bau, maka ia dihukumi bersih. Sebaliknya, jika kadarnya sedikit, maka keseluruhannya akan menjadi mutanajjis meskipun hanya bersentuh dengan najis.

Menurut pendapat ulama madzhab Maliki, tidak ada batas khusus bagi kadar banyaknya sesuatu air. Adapun pendapat ulama madzhab Syafi’i dan Hambali air yang banyak itu ialah air yang kadarnya mencapai dua kulah (kurang lebih 500 kati Baghdad), dan pengertian air yang mengalir ialah apabila memang terjadi aliran air, yaitu seperti yang didefinisikan oleh ulama madzhab Syafi’i, air yang naik ke atas ketika ia berombak, baik ia benar-benar terjadi ataupun sekadar dikira saja, jika alirannya besar, maka ia tidak akan menjadi mutanajjis. Kecuali, jika terjadi perubahan pada air tersebut, dan air itu dianggap terpisah dari air yang di depannya dan juga air yang di belakangnya.

Menurut ulama madzhab Hambali air yang terkena najis, maka air yang ada di de-katnya juga najis. Begitu juga yang ada di belakangnya, di depannya, serta yang ada di dua tebing sungai yang menyebelahinya, atau dengan kata lain air yang berada di sekeliling najis dari setiap sudut baik di bawah, kanan dan kiri juga najis. Kedua keterangan ini adalah sama.
Jika air itu mengalir dan di dalamnya terdapat najis yang ikut mengalir bersamanya seperti bangkai, dan aliran air itu berubah (karena najis tersebut), maka air yang berada pada bagian sebelumnya adalah bersih karena najis tidak akan sampai kepadanya. Keadaan ini seperti air yang dicurahkan kepada najis dari kendi. Begitu juga bagian yang berada pada setelahnya dihukumi bersih, karena najis itu juga tidak sampai kepadanya. Adapun bagian air yang mengelilinginya baik di atas, bawah, kanan, dan juga kirinya, jika memang kadarnya mencapai dua kulah dan tidak terjadi perubahan apa pun dengan sebab najis itu, maka ia dihukumi bersih. Tetapi jika kadarnya tidak sampai dua kulah, maka ia menjadi mutanajjis, keadaannya sama seperti air yang tidak mengalir.

Perlu diperhatikan juga bagian-bagian dari setiap satu aliran itu, dari satu bagian ke bagian yang lain, yaitu air yang meninggi dan menurun di antara dua tebing sungai ketika ia berombak. Air di bagian yang mengalir merupakan air yang tidak padu. Oleh karena itu, jika ada najis yang terjatuh ke dalamnya dan bergerak mengikuti pergerakan aliran air, maka bagian aliran air yang terkena najis tersebut dihukumi najis. Tetapi, air yang mengalir setelahnya dihukumi sebagai air basuhan najis. Jika najis itu seekor anjing, maka wajiblah dibasuh sebanyak tujuh kali, salah satunya dibasuh dengan air debu yang bersih.

Untuk mengetahui air yang mengalir itu dua kulah, adalah dengan cara mengukurnya sepanjang satu seperempat hasta baik panjang, lebar, dan dalamnya.
Jika di depan air ada tempat tinggal yang menahannya dari mengalir, maka hukumnya dalah sama aseperti air yang tidak mengalir.

Kesimpulannya adalah apabila ada najis mengenai air, maka air itu dihukumi sebagai air mutanajjis. Ini menurut ulama-ulama. Apabila ada air mengenai najis, maka air itu juga mutanajjis.
Manfaat Tricajus Untuk Pria Dan Wanita >>> Tautan
Cara Meningkatkan Kualitas Sperma Pria klikk >>>> Tautan
Bundapoker.Com Agen Texas Poker Dan Domino Online Indonesia Terpercaya Tautan

Today's Quote
""Bertanyalah kepada orang yang berpengalaman, bukan kepada orang bijak." (Mutiara Islam)"