Need an account?

Forgot password?
Takwil Al-Qur`an (Bab 8)
Adab membaca Al-Quran :
1. Bersiwak sebelumnya.
2. Mempunyai wudhu.
3. Membaca ditempat yang suci dan bersih.
4. Membaca Taawudz sebelum mulai membaca Al-Quran
5. Membaca Basmallah pada permulaan awal surah, kecuali surah At-Taubah, sebab Basmallah termasuk salah satu ayat Al-Quran.
6. Membaca dengan khusuk, tenang dan takzim.
7. Menghadirkan hati dan meresapi maknanya.
8. Membaca dengan tartil (pelan dan tenang) dan dengan tajwid yang benar.
9. Membaguskan suara.
10. Mengeraskan suara bacaan.

Keadaan suci ketika membaca dan menyentuh Al-Quran :
A. Membaca Al-Quran dalam keadaan berhadats kecil.
Membaca Al-Quran dalam keadaan berhadats kecil dengan tanpa menyentuhnya, hukumnya jaiz (boleh). Sayyid Sabiq dalam Fiqhus Sunnah menyatakan bahwa Para ulama tidak berselisih pendapat atau sepakat didalam masalah tersebut.
B. Membaca Al-Quran dalam keadaan berhadats besar (junub).
Ibnu Rusyd dalam Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid mengatakan : Jumhur ulama mengharamkannya.
Dalam Fiqhus Sunnah, karya Sayyid Sabiq terdapat keterangan : Imam Bukhary, ath-Thabrani, Abu Daud dan Ibnu Hazm membolehkannya.
C. Membaca Al-Quran dalam keadaan haid atau nifas
Hadits Jabir dari Nabi, beliau bersabda :
Perempuan yang sedang haidh dan nifas tidak (boleh) membaca sesuatu dari Al-Quran (HR ad-Daraquthni).
Hadits lain bersumber dari Ibnu Umar yang diriwayatkan oleh Abu Daud, Turmudzi dan Ibnu Majah dengan redaksi yang tidak jauh berbeda dengan hadis Jabir diatas. Dari situ jumhur ulama mengharamkan wanita yang sedang haid atau nifas membaca Al-Quran.
Imam Syaukani dalam Nailul Autar berkata : Kedua hadits itu tidak patut untuk dijadikan hujjah untuk hukum haram. (Kedua hadits tersebut masih diperselisihkan ke-sahihannya).
D. Menyentuh Al-Quran dalam keadaan ber hadats kecil dan besar.
Dalil yang mengharamkan menyentuh Al-Quran dalam keadaan ber hadats kecil maupun besar masih diperselisihkan dan cenderung tidak kuat.
Dari segi untuk ke hati-hatian dan dari adab kesopanan sebaiknya ketika menyentuh dan membaca Al-Quran sedapat mungkin dalam keadaan suci dan punya wudhu.
Menerima upah dari mengajarkan Al-Quran
Abu Laits Nashrun bin Muhammad as-Samarqandi dalam kitabnya Bustanul Arifin menyatakan bahwa mengajarkan Al-Quran itu ada tiga macam :
1. Mengajarkan Al-Quran ikhlas karena Allah semata dan tidak meminta upah.
2. Mengajarkan Al-Quran dengan meminta upah.
3. Mengajarkan Al-Quran dengan tanpa syarat, jika dikasih upah diterima.
Macam pertama mendapat pahala Allah atas perbuatannya dan yang demikian itu meneladani perbuatan para nabi.
Macam kedua diperselisihkan oleh para ulama. Sebagian ulama dahulu (mutaqaddimun) menetapkan tidak boleh. Sedangkan sebagian ulama kemudian (mutaakhkhirun) menetapkan Boleh seperti : Ashnan bin Yusuf, Nashrun bin Yahya dan Abu Nashr bin Salam.
Macam ketiga disepakati boleh oleh jumhur ulama.
VIII. Tema-Tema Dalam Al-Quran
8.1 Amsal (perumpamaan) dalam Al-Quran
Menurut Ibnu Qayyim, Amtsalul Quran adalah penyerupaan sesuatu dengan sesuatu yang lain dalam hal hukumnya dan mendekatkan sesuatu yang abstrak dengan yang kongkrit.
Macam-macam Amtsal (perumpamaan) dalam Al-Quran :
1. Amtsal Musarrahah, ditunjukkan dengan lafazh pemisalan atau sesuatu yang menunjukkan tasbih.
Contohnya : QS Al-Baqarah [2] : 17-20 :
Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, maka setelah api itu menerangi sekelilingnya, Allah menghilangkan cahaya (yang menyinari) mereka dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat. Mereka ini bisu dan buta, maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar). Atau seperti orang-orang yang ditimpa hujan lebat dari langit disertai gelap gulita, guruh dan kilat. . Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu
2. Amtsal Kaminah, yaitu tidak ditunjukkan dengan lafazh permisalan.
Contohnya : QS Al-Baqarah [2] : 68 :
Sapi betina yang tidak tua dan tidak muda, pertengahan dari itu
3. Amtsal Mursalah, kalimat-kalimat bebas yang tidak menggunakan lafazh tasbih secara jelas, tetapi kalimat-kalimat itu berlaku sebagai permisalan.
Contoh : QS [11] : 81 :
Bukankah subuh itu sudah dekat sebagai perumpamaan waktu yang udah dekat.
Kitab yang khusus membahas Amtsalul Quran diantaranya Amtsal Al-Quran karangan Ibnu Qayyim Jauziah.
8.2. Qasam (sumpah) dalam Al-Quran
Bentuk sumpah ada dua, yaitu :
1. Qasam Zahir, yaitu disebutkan kata sumpah, contohnya QS [75] : 1-2 :
Aku bersumpah dengan hari kiamat. Dan Aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri)
2. Qasam Mudhmar, yaitu tidak disebutkan kata sumpah didalamnya, contohnya QS [3] : 186 :
Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap harta dan dirimu
8.3. Jadal (perdebatan) dalam Al-Quran
Bentuk dan tujuan perdebatan dalam Al-Quran :
1. Membungkam lawan, contoh pada QS at-Tur [52] : 35-43 :
Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu pun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri ) ?. Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu ? Ataukah disisi mereka ada perbendaharaan Tuhanmu ataukah mereka yang berkuasa ? Ataukah mereka mempunyai tangga (ke langit) untuk mendengarkan pada tangga itu (hal-hal yang ghaib) ? Maka hendaklah orang yang mendengarkan di antara mereka mendatangkan suatu keterangan yang nyata. Ataukah untuk Allah anak-anak perempuan dan untuk kamu anak-anak laki-laki ? Ataukah kamu meninta upah kepada mereka sehingga mereka dibebani dengan utang ? Apakah ada pada sisi mereka pengetahuan tentangnya yang lalu mereka menuliskannya ? Ataukah mereka hendak melakukan tipu daya ? Maka orang-orang kafir itu merekalah yang kena tipu daya. Ataukah mereka mempunyai tuhan selain Allah ? Mahasuci Allah dari apa yang mereka sebutkan.
2. Mengambil dalil penciptaan awal untuk argumen hari kebangkitan, contohnya pada QS at-Tarik [86] : 5-8 :
Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apakah ia diciptakan ? Ia diciptakan dari air yang terpancar. Yang keluar dari antara tulang sulbi laki-laki dan tulang dada perempuan. Sesungguhnya Allah benar-benar berkuasa mengembalikannya (menghidupkan sesudah mati)
3. Membatalkan pendapat lawan dengan bukti kebenaran kebalikannya. Contohnya pada QS al-Anam [6] : 91 :
Katakanlah siapa yang menurunkan kitab (Taurat) yang dibawa oleh Musa sebagai cahaya dan petunjuk bagi manusia, kamu jadikan kitab itu lembaran-lembaran kertas yang bercerai-berai, kamu perlihatkans ebagiannya dan kamu sembunyikan sebagian besarnya; padahal telah diajarkan kepada kamu apa yang kamu dan bapk-bapak kamu tidak mengetahuinya ? Katakan lah : Allah-lah (yang menurunkannya), kemudian (sesudah kamu menyampaikan Al-Quran kepada mereka), biarkanlah mereka bermain-main dalam kesesatannya
4. Menerangkan bahwa sesuatu itu bukanlah alasan hukum, contoh pada QS Al-Anam [6] : 143-144 :
Delapan binatang yang berpasangan,sepasang dari domba dan sepasang dari kambing. Katakanlah : Apakah dua yang jantan yang diharamkan Allah ataukah dua betina, ataukah yang ada dalam kandungan dua betinanya ? Terangkanlah kepadaku dengan berdasar pengetahuan jika kamu memang orang-orang yang benar. Dan sepasang dari unta dan sepasang dari lembu. Katakanlah : Apakah dua yang jantan yang diharamkan ataukah dua betina, ataukah yang ada dalam kandungan dua betinanya ? Apakah kamu menyaksikan di waktu Allah menetapkan ini bagimu ? Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah untuk menyesatkan manusia tanpa pengetahuan ? Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim
5. Mematahkan hujjah lawan, contohnya pada QS Al-Anam [6] : 100-101 :
Dan mereka (orang-orang musyrik) menjadikan jin itu sekutu bagi Allah, padahal Allah-lah yang menciptakan jin-jin itu dan mereka berbohong (dengan mengatakan) : bahwasanya Allah mempunyai anak lai-laki dan perempuan, tanpa berdasar ilmu pengetahuan. Mahasuci Allah dan Mahatinggi dari sifat-sifat yang mereka berikan. Dia pencipta langit dan bumi. Bagaimana Dia mempunyai anak padahal Dia tidak mempunyai isteri ? Dia menjadikan segala sesuatu dan Dia mengetahui segala sesuatu.
8.4. Qishosh (Kisah) dalam Al-Quran.
Macam-macam kisah dalam Al-Quran :
1. Kisah Nabi-Nabi terdahulu, seperti Nabi Nuh, Hud, Ibrahim, Musa, Yusuf, dsb.
2. Kisah person tertentu, seperti Lukman, Dzulqarnain, Ashabul Kahfi, Maryam, dll.
3. Kisah peristiwa-peristiwa, seperti perang badar, perang uhud, perang ahzab, dsb.
IX. Ushul Tafsir
Ushul tafsir adalah cabang dari ilmu ulumul Quran yang membahas ilmu-ilmu dan kaidah-kaidah yang diperlukan dan harus diketahui untuk menafsirkan Al-Quran. Ushul tafsir ini adalah bagian dari ulumul quran yang paling penting karena sangat erat kaitannya dengan istinbath (penyimpulan hukum) dalam fikih dan penetapan itikad (tauhid, akidah) yang benar.
Ibnu Taimiyyah dalam Muqaddimah fi Ushulit Tafsir menyatakan : Jika ada orang bertanya : Apakah jalan yang terbaik untuk menafsirkan Al-Quran, maka jawabnya : Menafsirkan Al-Quran dengan Al-Quran. Apabila ebgkau tidak mendapatkan penafsirannya pada Al-Quran, maka tafsirkanlah dengan sunnah (hadits), karena sesungguhnya ia memberi penjelasan terhadap Al-Quran. Apabila tidak engkau temukan tafsirnya dalam Al-Quran dan tidak pula dalam sunnah, maka merujuklah kepada perkataan-perkataan sahabat Nabi SAW, karena mereka paling mengetahui sesudah Nabi, mengingat mereka menyaksikan (sebagian) turunnya Al-Quran dan situasi ketika ayat itu turun serta mereka memiliki pemahaman yang benar dari Nabi. Apabila tidak ditemukan penafsiran dalam Al-Quran dan sunnah serta tidak ada pula penafsiran sahabat, maka dalam hal ini para imam merujukperkataan tabiin
A. Tafsir Al-Quran dengan Al-Quran
Metode ini berdasarkan contoh dari Rasulullah. Ketika para sahabat membaca firman Allah :
Mereka yang beriman dan tidak mencampur adukkan keimanannya dengan kezaliman, mereka itulah yang mendapat kemananan dan mereka mendapat petunjuk (QS [6] : 82}.
Para sahabat bertanya kepada Rasulullah : Wahai Rasulullah, siapakah diantara kita orang yang tidak menzalimi dirinya sendiri ? Nabi menjawab : Tidak seperti yang kalian sangka, kezaliman yang dimaksud adalah syirik. Tidakkah enkau membaca ucapan hamba yang saleh (Luqman) : Sesungguhnya kemusyrikan adalah kezaliman yang sangat besar. (QS Luqman [31] : 13).
Firman Allah dalam QS Al-Fatihah [1] : 6 :
Tunjukilah kami jalan yang lurus, jalan orang-orang yang Engkau beri nikmat
Siapakah yang dimaksud orang-orang yang diberi nikmat ? maka tafsirnya ada pada ayat Al-Quran yang lain, yaitu QS An-Nisa [4] : 69 :
Barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul (Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu : Nabi-Nabi, para Shiddiqin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.
B. Tafsir Al-Quran dengan sunnah (hadits)
Peran (hadits) Rasulullah terhadap Al-Quran :
1. Menjelaskan bagian yang masih global (mujmal).
2. Mengkhususkan (men-takhsis) yang masih umum (amm).
3. Menjelaskan arti dan kaitan kata-kata tertentu.
4. Memberikan ketentuan tambahan dari aturan yang telah ada dalam Al-Quran.
5. Menjelaskan nasakh (menghapus) ayat.
6. Menegaskan hukum-hukum yang telah ada.
Firman Allah dalam QS Al-Baqarah [2] : 43 :
dan dirikanlah shalat
Perintah mendirikan sholat tersebut masih kalimat global (mujmal) yang masih butuh penjelasan bagaimana tata cara sholat yang dimaksud, maka untuk menjelaskannya Rasulullah naik keatas bukit kemudian melakukan sholat hingga sempurna, lalu bersabda : Sholatlah kalian, sebagaimana kalian telah melihat aku shalat (HR Bukhary).

C. Tafsir Al-Quran dengan perkataan sahabat Nabi (Qaul Sahabi).
Sahabat nabi adalah generasi terbaik yang beriman dan diridloi Allah, bertemu langsung dengan Nabi dan ikut menyaksikan peristiwa yang melatarbelakangi turunnya suatu ayat dan keterkaitan turunnya dengan ayat yang lain. Mereka mempunyai kedalaman pengetahuan dari segi bahasa, saat bahasa itu digunakan, kejernihan pemahaman, kebenaran manhaj, kuatnya keyakinan, apalagi jika mereka telah melakukan Ijma dalam suatu penafsiran.
Firman Allah dalam QS An-Nur [24] : 31 :
Hendaklah mereka tidak menampakkan kecantikannya, kecuali apa yang boleh tampak darinya
Ibnu Abbas menafsirkan yang boleh tampak itu adalah : wajahnya, kedua telapak tangan dan cincin

D. Tafsir Al-Quran dengan perkataan tabiin.
Tabiin bertemu langsung dengan para sahabat Nabi dan mengambil ilmu dari mereka.
Di Mekkah berdiri perguruan Ibnu Abbas, diantara para tabiin yang menjadi muridnya adalah : Said bin Jubair, Mujahid, Ikrimah maula Ibnu Abbas, Tawus bin Kaisan Al-Yamani dan Ata bin Abi Rabah.
Di Madinah Ubay bin Kaab lebih menonjol dibidang tafsir dari sahabat Nabi yang lain, diantara muridnya dikalangan tabiin adalah : Zaid bin Aslam, Abu Aliyah dan Muhammad bin Kaab al-Qurazi.
Di Kufah (Iraq) berdiri perguruan Ibnu Masud, yang dipandang oleh para ulama sebagai cikal bakal mazhab ahli ray (akal). Tabiin yang menjadi muridnya antara lain : Alqamah bin Qais, Masruq, Al-Aswad bin Yazid, Murrah Al-Hamazani, Amir Asy-Syabi, Hasan al-Basri dan Qatadah bin Diamah as-Sadusi.
Sufyan Tsauri berkata : Jika datang padamu tafsir dari Mujahid, cukuplah itu bagimu.
Berkata Ibnu Taimiyah : Syafii, Bukhari dan ahli ilmu lainnya banyak berpegang kepada tafsirnya.
Az-Sahabi berkata : Umat sepakat bahwa Mujahid adalah tokoh terkemuka yang kata-katanya dijadikan hujjah, dan kepadanya Abdullah bin Kasir belajar.
Diantara tokoh-tokoh tabiin Mujahid merupakan yang paling menonjol dan perkataannya banyak diikuti mufasirin sesudahnya. Tentunya harus diseleksi sanad-sanad atsar yang disandarkan kepada mereka, bila sahih maka layak untuk diikuti.

E. Israiliyyat.
Setelah beberapa ulama Yahudi masuk Islam, seperti : Abdullah bin Salam, Kabul Ahbar, Wahb bin Munabbih, Abdul Malik bin Abdul Azis bin Juraij; khabar dan kisah dari kitab-kitab Bani Israil mulai menyebar di kalangan kamu muslimin. Sebagian mufasirin mengutip Israiliyyat ini kedalam kitab tafsir mereka.
Israiliyyat ini dibagi menjadi tiga :
1. Yang sesuai dengan syariat Islam, maka bisa diterima.
2. Yang bertentangan dengan syariat Islam, maka harus ditolak.
3. Yang didiamkan, tidak diterima dan tidak ditolak, sebatas dijadikan wacana.
Cara Cepat Menyembuhkan Luka Tautan
masih berjuang mengingat email
truk tambang biasa dan mobil dump truck gitu ternyata beda lho gan - Tautan

Today's Quote
""Diam adalah suatu kebijaksanaan, tetapi sedikit benar orang yang berbuat demikian." (HR Baihaqy)"