Need an account?

Forgot password?
Metamorfosis DEWA

Penuh percaya diri DEWA merilis 'Laskar Cinta' pada medio November 2004. Sebuah karya yang secara musikalitas memang jauh lebih dahsyat dari album-album DEWA terdahulu, kendati segi orisinalitasnya masih dipertanyakan kalangan kritikus musik (note : banyak sekali beat atau coda tertentu yang diambil DEWA dari kelompok musik influence-nya). Pra-rilis 'Laskar Cinta' ini, Dhani Ahmad, orang paling berpengaruh di DEWA, mengatakan pada publik bahwa di album ke-7 DEWA akan tampil lain sama sekali. Konon, ia dan kawan-kawannya bahkan tak banyak hirau, akan sisi komersial dari komposisi yang mereka garap, sebagaimana corak lagu-lagu pada album pertama sampai ke-6.

Pasca perilisannya, 'Laskar Cinta' sudah terjual sekitar 150.725 copy pada akhir Desember 2004. Klip 'Pangeran Cinta' dengan latar film Flash Gordon kerap muncul di berbagai stasiun televisi. Disusul klip lagu 'Satu' yang dibuat surealistik, semakin kuat DEWA memancangkan tonggaknya sebagai supergroup Indonesia, ditilik dari kekuatan musik, lirik, dan ekspresi dalam video klip. Namun sebagaimana lazimnya sebuah kelompok musik besar- gosip, intrik dan kontra bak bagian dari hembusan angin yang kerap menerpa pepohonan tinggi. Setelah lagu 'Arjuna Mencari Cinta' pada album ke-6 'Cintailah Cinta' digugat oleh penulis Yudhistira ANM Massardi, dan Dhani Ahmad dianggap telah menjiplak judul novelnya, pasca 4-5 bulan peredarannya 'Laskar Cinta' diterpa oleh masalah serupa. Di bulan ke-5 peredarannya tersebut, Front Pembela Islam (FPI) mengadukan DEWA ke Polda Metro Jaya. Mereka menuntut ditariknya peredaran kaset 'Laskar Cinta' yang memuat ikon hasil modifikasi dari kaligrafi lafadz Allah SWT pada sampulnya. Merekapun menuntut pertanggung-jawaban DEWA, atas perlakuan tak layak kelompok musik tersebut terhadap lafadz yang telah dimodifikasi menjadi ikon itu dalam konser eksklusifnya di TransTV. Kebetulan setting panggung DEWA ketika itu meletakkan komponen ikon tepat pada floorstage. Otomatis, dikala beraksi, Once-Dhani-Andra-Yuke berdiri di atas ikon tersebut.

MUI kemudian mengeluarkan pernyataan, setelah lewat satu minggu pihak DEWA maupun FPI berpolemik di berbagai media cetak/elektronik, berpuncak dilaporkannya DEWA ke Polda Metro Jaya oleh FPI. Didampingi Ustadz H Asmuni Abdul Rahman dan H Din Syamsudin, KH Umar Shihab membacakan 3 butir pernyataan sikap MUI berkenaan dengan kasus tersebut. Inti ketiga butir pernyataan MUI adalah : (1) mengkritisi penampilan DEWA dalam konser eksklusif TransTV ; (2) tidak melarang pemakaian logo bintang delapan dalam album 'Laskar Cinta'. Tapi MUI meminta DEWA merevisi cover dalam, yang memuat gambar para personil DEWA dengan tubuh penuh tato. Sedang lafadz Allah yang telah dimodifikasi tersebut diterakan di dada masing-masing personil ; (3) menyarankan ishlah antara DEWA dengan FPI. Dan MUI-pun bersedia menjadi mediator ishlah antara Dhani Ahmad sebagai pimpinan DEWA dengan Habib Rizieq Shihab sebagai Ketua FPI.

Sebuah sikap gentle ketika Dhani Ahmad menyiarkan permohonan maaf atas nama DEWA, kepada segenap umat Islam khususnya kaum muslimin Indonesia. Secara jujur Dhani & DEWA telah mengakui kekeliruan mereka atas penampilannya di konser eksklusif TransTV. Himbauan MUI agar DEWA mau merevisi cover dalam-nyapun bukanlah sebuah anjuran yang tak realistis. Justru anjuran MUI itu malah bakal mengukuhkan niatan Dhani & DEWA, bahwa sebenarnya album 'Laskar Cinta' mereka dedikasikan untuk nilai-nilai ketuhanan. Proses yang sebetulnya sudah tampak ditempuh DEWA pada umumnya, dan Dhani Ahmad pada khususnya, jika kita menilik proses kreatif mereka dari album ke-1 hingga 7.

Kendati DEWA lebih terkenal dengan hits-hits bernafaskan cinta antara pria-wanita semisal : 'Kangen', 'Aku Milikmu', 'Tak Akan Ada Cinta Yang Lain', 'Cinta 'kan Membawamu Kembali', 'Manusia Biasa', 'Satu Hati', 'Kamulah Satu-satunya', 'Elang', 'Roman Picisan', 'Risalah Hati', 'Cemburu', 'Separuh Nafas', 'Arjuna', 'Pupus' atau Angin- dalam setiap albumnya DEWA sebetulnya berusaha pula menampilkan lirik dengan spirit kemanusiaan. Kecenderungan itu tampak mulai album ke-2 DEWA : 'Format Masa Depan' (1994). 'Liberty' dan 'Mahameru' adalah lagu-lagu yang saya maksud. Di album ke-3, 'Terbaik Terbaik' (1995), DEWA memasukkan 'Restoe Boemi' , 'Cukup Siti Nurbaya', 'Jangan Pernah Mencoba' sebagai materi album. Berikut masing-masing lirik dalam refreinnya :


Restoe Boemi (Erwin/Dhani)

Kuyakinkan restu bumi
Bangunkan jiwaku
Basuhi raga kita
Restu bumi leburkan hati
Sucikan dari debu dunia...

Cukup Siti Nurbaya (Dhani)

Katakan ! pada Mama
Cinta bukan hanya harta dan tahta
Pastikan ! pada semua
Hanya cinta yang sejukkan dunia...


Jangan Pernah Mencoba (Dhani)

Hapuskan semua gairah yang ada
Buang gejolak hasrat mencoba
Belum pasti dia untukmu
Jangan sampai ada airmata
Dari lelaki yang pasti
Mendampingimu untuk selamanya...

Melihat mutu, tiga sample lirik lagu DEWA itu berada diatas rata-rata materi kelompok musik lain di blantika musik Indonesia saat itu (bahkan mungkin sampai saat ini). Hasil perenungan dari tadzabur alam, usaha pembebasan dari belenggu sikap paternalistik, serta nasihat yang dikemas dalam bahasa 'curhat' khas anak muda, adalah pesan dan ciri yang mengemuka dalam tiga lagu tersebut. Jarang band-band atau musisi lain yang sepiawai DEWA dalam mengemas lirik lagu. Usaha DEWA menjaga kualitas liriknya berlanjut pada album-album berikut. Meskipun menyimak musiknya saya kurang begitu suka, namun saya mengakui kedalaman lirik dalam album ke-4 DEWA : 'Pandawa Lima'. Disamping penggarapan 'Pandawa Lima', Dhani Ahmad & Andra Ramadhan disibukkan pula oleh side job mereka, penggarapan original soundtrack film 'Kuldesak'. Di proyek mini album 'Kuldesak' inilah ekspresi spiritual dua pentolan DEWA menampakkan wujud. Album yang dikupas habis oleh majalah bergengsi 'Asiaweek' tersebut melibatkan Elfonda Mekel (Once), vokalis dengan suara crossing antara Jon Anderson (Yes) dan Robert Plant (Led Zeppelin), frontman DEWA berikutnya menggantikan Ari Lasso.

Album 'Kuldesak' memuat dua buah komposisi brilian : 'Kuldesak' dan 'Kembali Ke Timur'. Lagu 'Kembali Ke Timur' mengandung ajakan kepada kita yang notabene 'orang timur', untuk kembali ke nilai-nilai atau norma-norma asli ketimuran. Norma-norma luhur yang menyeimbangkan sisi emosional dan sisi spiritual seorang manusia. Terkuak kekaguman Dhani Ahmad terhadap penulis Ihya 'Ulum Ad-Din, Imam Al-Ghazali, saat kita menyimak salah satu bait lagu tersebut. Keresahan manusia yang terasingkan dari nilai ilahiah, juga menjadi tema dari best cut album 'Kuldesak', sebuah lagu berjudul sama dengan theme album : 'Kuldesak'. Berikut lirik 'Kuldesak' dan 'Kembali Ke Timur' :

Kuldesak (Dhani)

I look a round I fly to find
A space to lay my head upon

Aku bagai buih di laut biru
Tersapu ombak terhempas badai
Aku bagai debu di padang pasir
Terseret angin terbakar panas

Tolonglah Tuhan beri petunjukMu
Jalan yang benar menuju jalanMU
Agar tak tersesat di persimpangan jalan

Aku bagai bintang di gelap malam
Diantara seribu bintang
Terdampar di puing jagad raya
Terkapar lelah tak berdaya
Ku menangis, kutertawa
Semua tak bisa di hindari

Tolonglah Tuhan beri petunjukMu
Jalan yang benar menuju jalanMU
Agar tak tersesat di persimpangan jalan


Kembali ke Timur (Dhani)

Datanglah sebagai dirimu bawa jiwa
Sanubari yang tak terasa butakan hati
Iblis berbentuk manusia butakan hati
Mengajak kita untuk berdansa lewat nada

Sejatinya jiwa tak mati dimakan zaman

Kembali ke Timur
Bukan Barat yang selalu dituju
Pemadat dijadikan panutan
Bukan Al Ghazali

Ideologi setan disebarkan
Menghimpun massa yang lapar

Datanglah sebagai dirimu bawa nilai
Rasa nurani yang hilang tuntaskan hati
Datanglah sebagai dirimu
Timur yang selalu dituju

Eksplorasi lirik dalam lagu-lagu DEWA mencapai puncaknya ketika 'Bintang Lima' dan 'Cintailah Cinta' dirilis berturut-turut tahun 1998 dan 2000. Puitisasi lirik yang tampak mulai dari : 'Roman Picisan', 'Dua Sejoli', 'Risalah Hati', 'Hidup Adalah Perjuangan', 'Sayap-sayap Patah', 'Lagu Cinta', 'Separuh Nafas', 'Arjuna', 'Kosong', 'Pupus', 'Kasidah Cinta', 'Air Mata','Bukan Rahasia' dan 'Cintailah Cinta', melambungkan penjualan album ke-5 dan 6 hingga melebihi angka 1.000.000 copy. DEWA ditahbiskan sebagai band paling jenius di Indonesia, karena perpaduan lirik dan musiknya yang tak lazim, ternyata bisa diterima luas oleh banyak kalangan pencinta musik. Pendekatan DEWA dalam eksplorasi lirik inipun kemudian ditiru banyak band-band muda Indonesia, mulai dari : 'PADI', 'Sheila On 7' sampai 'PeterPan'. Corak lirik yang dipelopori DEWA menjadi referensi banyak musisi, meskipun tak satupun bisa menyamai kejeniusan DEWA, ketika meramu lirik dan aransemen menjadi satu komposisi utuh, yang enak didengar dan diresapi. Dhani Ahmad memproklamirkan DEWA sebagai band panji ilahi, pasca sukses dua album tersebut. Iapun ditengarai banyak terpengaruh oleh pujangga besar asal Lebanon : Khalil Gibran. Satu pendapat yang kemudian ia tepis. Sebab sebetulnya influence utama Dhani dalam penulisan lirik adalah teks Matsnawi karya Jalaluddin Rumi. Kekaguman Dhani pada Jalaluddin Rumi, Syaikh Abdul Qadir Jaelani dan Imam Al-Ghazali tuntas terejawantahkan dalam lirik-lirik album ke-7 : 'Laskar Cinta'. Kegandrungan Dhani dan personil DEWA lainnya terhadap hal-hal spiritual, sempat mereka akui dalam sebuah acara infotainment di salah satu televisi swasta. Dhani mewakili teman-temannya mengakui bahwa basic dari penggarapan 'Laskar Cinta' adalah nilai-nilai religius. Menyimak lagu andalan di album tersebut, apa yang dikatakan Dhani bukanlah sebuah isapan jempol. 'Pangeran Cinta', 'Satu' atau 'Hadapi Dengan Senyuman' mengindikasikan kecenderungan tersebut. Berikut lirik-liriknya :


Pangeran Cinta (Dhani & Faiz M)

Detik-detik berganti dengan detik
Menitpun silih berganti
Hari-haripun terus berganti
Bulan-bulan juga terus berganti
Jaman-jamanpun terus berubah
Hidup ini juga pasti mati

Semua ini pasti akan musnah
Tetapi tidak cintaku padamu
Karena aku sang pangeran cinta

Malam-malam diganti dengan pagi
Pagipun jadi siang
Tahun-tahunpun berganti abad
Yang mudapun pasti menjadi tua
Musim-musimpun terus berganti
Hidup ini juga pasti mati

Tak akan ada yang abadi
Tak akan ada yang kekal


Satu (Dhani)

Aku ini...adalah dirimu
Cinta ini...adalah cintamu
Aku ini...adalah dirimu
Jiwa ini...adalah jiwamu

Rindu ini adalah rindumu
Darah ini adalah darahmu

Tak ada yang lain selain dirimu
Yang selalu ku puja
Kusebut namamu
Disetiap hembusan nafasku
Kusebut namamu
Kusebut namamu

Dengan tanganmu aku menyentuh
Dengan kakimu aku berjalan
Dengan matamu aku memandang
Dengan telingamu aku mendengar
Dengan lidahmu aku bicara
Dengan hatimu aku merasa


Hadapi Dengan Senyuman (Dhani)

Hadapi dengan senyuman
Semua yang terjadi
Biar terjadi
Hadapi dengan tenang jiwa
Semua kan baik-baik saja

Bila ketetapan Tuhan
Sudah ditetapkan
Tetaplah sudah
Tak ada yang bisa merubah
Dan takkan bisa berubah

Relakanlah saja ini
Bahwa semua yang terbaik
Terbaik untuk kita semua
Menyerahlah untuk menang


Sekilas kita akan menerka isi lirik 'Pangeran Cinta' dan 'Satu' merupakan ungkapan cinta, bak pernyataan Romeo kepada Juliet, Zulaikha kepada Yusuf. Apabila benar-benar kita cermati, lirik 'Pangeran Cinta' sebenarnya hasil adaptasi Dhani Ahmad berkenaan dengan relasi Nabi Muhammad SAW dengan Allah SWT. Begitu besarnya cinta Sang Habibullah terhadap Rabb-nya, sampai-sampai ketika segala kehidupan dunia sudah tak ada, mahabbah itu masih akan tetap ada. Demikian Dhani menggambarkan pernyataan cinta Nabi Muhammad SAW terhadap Allah SWT. Pada lagu 'Satu', Dhani berupaya menyimpulkan kedekatan hubungan antara manusia dengan Rabb-nya. Ketika tangan, kaki, mata, lidah dan telinga melakukan apa yang diperintahkan-Nya, serta menjauhi apa yang dilarang-Nya, maka ia akan 'menyatu' dengan Sang Khaliq. Artinya, terbukalah hijab antara mahluk dengan Rabb, sehingga si mahluk mengenal siapa dirinya, siapa Tuhan yang telah menciptakan-Nya. Sebelum membuat lirik 'Satu', Dhani tampaknya telah membaca dan merenungkan salah sebuah hadist Qudsi. Dan lirik 'Satu' inilah hasil intrepretasi Dhani terhadap hadist Qudsi. Berbicara tentang lirik 'Hadapi Dengan Senyuman', kita diingatkan pada rukun Iman yang terakhir : percaya pada qadar yang baik maupun buruk. 'Hadapi Dengan Senyuman' menjadi lagu yang sangat otentik dengan keadaan Indonesia sekarang- sebuah negeri yang tengah dirundung banyak kesusahan. Satu-satunya yang bisa menghibur hati hanyalah keikhlasan. Keikhlasan yang sejati.

Merunut sejarah proses kreatif DEWA & Dhani Ahmad sejak album pertama, DEWA dan Dhani tampaknya berusaha untuk jujur dan bergiat di jalur berkesenian yang penuh dengan gerak pencarian. Motif kerja mereka di dunia musik tak hanya berpatok pada motivasi ekonomis belaka. Ada keinginan untuk selalu mengungkapkan diri melalui karya-karya terbaik, dalam hal ini lirik lagu yang secara maknawi bisa menggugah perasaan kita untuk menghargai kemanusiaan, sekaligus belakangan nilai-nilai ketuhanan. Memang tepat koreksi yang disampaikan FPI maupun MUI berkenaan dengan materi keseluruhan album 'Laskar Cinta'. Kematangan DEWA dalam mengemas lagu dan lirik, perlu dibalut pula oleh attitude maupun dan ekspresi penyampaian yang tepat. Maka selain lagu dengan lirik yang penuh makna, bait yang tidak nyinyir, DEWA harus berpikir ulang soal performance album maupun stage-act mereka diatas panggung. Jangan sampai maksud baik mereka menghadirkan warna relijius dalam lagu-lagunya, tersaputkan oleh aksi pentas maupun pengemasan album yang sedikit gegabah. Terlepas dari berbagai problem yang timbul, saya berharap Dhani dan DEWA bisa terus berproses, bermetamorfosis, sehingga musik dan performance mereka tak hanya punya nilai untuk dunia saja. Semoga saja apa yang diproklamirkan Dhani Ahmad bahwasanya DEWA adalah band yang menyandang Panji Ilahi, membuat penampilan keseluruhan mereka- lagu, musik, pengemasan album, stage-act, stage design- bisa lebih kaffah menyiratkan niatan tersebut di masa-masa yang akan datang. Toh, Dhani Ahmad & DEWA sejak mula memang tampak terus berproses dan berusaha memperbaiki diri dalam tampilan stage maupun materi album. Upaya tersebut bisa kita lihat dari konsistensi penggarapan liriknya dari album ke album. Proses yang sebenarnya tampak juga pada kelompok musik senior : BIMBO. Betapa BIMBO bisa bermetamorfosis sehingga dikenal sebagai kumpulan yang relijius, setelah diawal karirnya mereka membawakan tembang-tembang yang temanya acak atau universal. Siapa tahu DEWA bisa mengikuti jejak pendahulunya itu. Meskipun dalam bentuk dan gaya yang lain sama sekali.

*peminat 'world music', tinggal di Sydney, Australia
 

Tautan yang memiliki keluhan dengan berta badan, silahkan berkunjung.
Obat Herpes Ampuh Tautan
Obat Herbal Tautan Asam Lambung Tautan Jelly Gamat Gold Tautan Tautan Kencing Manis Tautan Pelangsin

Today's Quote
""Diam adalah suatu kebijaksanaan, tetapi sedikit benar orang yang berbuat demikian." (HR Baihaqy)"